Hubungan karakteristik pasien diabetes melitus dengan kejadian xerostomia di RSUP Sanglah Denpasar

  • Made Ngurah Arya Diningrat Pinatih Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
  • Ni Kadek Fiora Rena Pertiwi Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
  • Desak Made Wihandani Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Keywords: diabetes mellitus, xerostomia

Abstract

Introduction: Diabetes mellitus patients usually experience various complicated healthiness problems in their oral cavity such as inflammation (infection) as in gingivitis, periodontitis, and some problems in their salivary flow secretion in the form of xerostomia, where the saliva flow will be decreased to equals or less than 0.15ml/minute, as the patients complain about having a hard time to chew, swallow, talk, problem in the sense of taste and pain in the tongue. The purpose of this research is to reveal the relation of characteristic of diabetes mellitus patients with xerostomia syndrome in Sanglah General Hospital Denpasar.
Method: Simple random sampling was conducted on 45 patients of diabetes mellitus who get treatment in Sanglah General Hospital Denpasar and the analysis of data was using chi-square. This research shows that diabetes mellitus patients with age within 51-60 years old group have higher risk (OR=0.110; 95% CI= 0.028-0.434; p= 0.001) to experience xerostomia than age within 40-60 years old group, female group expose more risk (OR= 0.100; 95% CI= 0.025-0.408; p=0.001) to experience xerostomia than male group; patients who suffer diabetes mellitus for more than 8 years (OR= 0.100; 95% CI= 0.025-0.408; p=0.001) expose more risk than patients who suffer diabetes mellitus for less than 8 years, patients with fasting blood sugar level more than 126mg/dl group have higher risk (OR= 0.168; 95% CI= 0.043-0.654; p=0.007) to experience xerostomia than patients with fasting blood sugar level less than 126mg/dl group.
Conclusion: There is significant corelation among age, gender, period of suffering, and fasting blood sugar level with xerostomia.

 

Latar Belakang: Pasien penderita penyakit diabetes melitus akan mengalami berbagai macam komplikasi pada kesehatan rongga mulut berupa inflamasi (peradangan) seperti gingivitis, periodontitis, dan masalah terhadap sekresi aliran saliva berupa xerostomia. Xerostomia merupakan keluhan subjektif berupa mulut kering yang terjadi akibat penurunan laju aliran saliva yaitu kurang dari atau sama dengan 0,15 ml/menit, biasanya penderita mengeluh kesulitan mengunyah, menelan, berbicara, gangguan pengecapan serta rasa sakit pada lidah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pasien diabetes melitus dengan kejadian xerostomia di RSUP Sanglah Denpasar.
Metode: pengambilan sampel menggunakan simple random sampling pada 45 orang pasien diabetes melitus yang berobat di RSUP Sanglah Denpasar dan dipilih menggunakan teknik simple random sampling dengan analisis data uji chi-square. 
Hasil: penelitian ini menunjukan bahwa pasien diabetes melitus dengan rentan 51-60 tahun lebih beresiko (OR=0,110; 95% CI= 0,028-0,434; p= 0,001) mengalami xerostomia dibandingkan dengan usia 40-60 tahun, pasien yang berjenis kelamin perempuan lebih berisiko (OR= 0,100; 95% CI= 0,025-0,408; p=0,001) mengalami xerostomia dibandingkan dengan pasien yang berjenis kelamin laki-laki, pasien yang menderita diabetes melitus >8 tahun (OR= 0,100; 95% CI= 0,025-0,408; p=0,001) lebih beresiko dibandingkan dengan pasien yang menderita diabetes melitus <8 tahun, pasien yang memiliki kadar gula darah puasa >126 mg/dl lebih beresiko (OR= 0,168; 95% CI= 0,043-0,654; p=0,007) mengalami xerostomia dibandingkan dengan pasien yang memiliki kadar gula darah <126 mg/dl.
Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia, jenis kelamin, lama menderita diabetes melitus dan kadar gula darah puasa dengan xerostomia.

Author Biographies

Ni Kadek Fiora Rena Pertiwi, Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Desak Made Wihandani, Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Published
2019-08-02
Section
Original Article