Home Politic “Warga Haiti di Harvard”: Konsul Vanessa Adrien memohon visi baru diasporaBerita terbaru...

“Warga Haiti di Harvard”: Konsul Vanessa Adrien memohon visi baru diasporaBerita terbaru dari Haiti: Politik, Keamanan, Ekonomi, Budaya.

2
0


Konsul Haiti di Chicago, Vanessa Charles Adrien, mengambil bagian, Jumat ini, 27 Maret 2026, dalam konferensi “Warga Haiti di Harvard”, yang dianggap sebagai pertemuan warga Haiti terbesar di Universitas Harvard.

Dalam pidatonya, diplomat tersebut mengucapkan terima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah menciptakan ruang luar biasa di mana ide, kepemimpinan, dan komitmen terhadap Haiti bertemu. Dia menekankan bahwa kehadiran warga Haiti di Universitas Harvard merupakan suatu kehormatan dan tanggung jawab.

“Suatu kehormatan, karena lembaga ini mewujudkan keunggulan, gagasan, dan kepemimpinan. Dan merupakan tanggung jawab, karena ketika kita berkumpul di ruang seperti ini, kita tidak hanya bertukar pengetahuan: kita membentuk masa depan,” katanya.

Diselenggarakan dengan tema “Memanfaatkan inovasi untuk memberikan dampak pada Haiti”, hari tersebut merupakan kesempatan bagi Vanessa Charles Adrien untuk menyoroti pentingnya dan dampak kerja warga Haiti di berbagai bidang di seluruh dunia, termasuk kedokteran, kewirausahaan, politik, dan sains.

“Diaspora Haiti bukan sekadar komunitas yang tinggal di luar negeri. Ini adalah jaringan global yang memiliki bakat, ketahanan, dan kepemimpinan. Dan sebagai konsul Haiti di Chicago, saya mendapat kehormatan untuk menyaksikannya setiap hari,” katanya.

Dia ingat bahwa, selama bertahun-tahun, diskusi seputar diaspora terutama berfokus pada transfer uang.

“Dan ya, kontribusi ini sangat penting bagi keluarga-keluarga di Haiti. Namun diaspora mewakili lebih dari sekadar transfer keuangan. Diaspora merupakan perwujudan pengetahuan, inovasi, dan pengaruh global,” katanya.

Menurutnya, pertanyaan sebenarnya saat ini bukanlah apakah diaspora dapat membantu Haiti, melainkan memahami bagaimana mengubah potensi luar biasa ini menjadi dampak jangka panjang.

Mengingat hal ini, konsul menekankan pentingnya peran inovasi dan kolaborasi.

“Inovasi bukan hanya soal teknologi. Ini soal memikirkan kembali cara kita memecahkan masalah, membangun kemitraan baru, menciptakan sistem baru, dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah ada sebelumnya,” jelasnya, seraya menekankan bahwa para pemimpin muda, baik di Haiti maupun diaspora, sudah menjadi bagian dari dinamika ini.

Vanessa Charles Adrien juga mengenang bahwa Haiti tidak kekurangan bakat maupun kecerdasan. Menurutnya, tantangan utama terletak pada tidak adanya sistem yang memungkinkan potensi tersebut berkembang sepenuhnya.

“Inilah sebabnya mengapa inovasi sangat penting, tidak hanya dalam bidang teknologi, tetapi juga dalam bidang pendidikan, kewirausahaan, dan kepemimpinan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa masa depan Haiti tidak akan dibangun oleh satu institusi, satu pemerintahan, atau satu generasi, namun melalui kolaborasi melampaui batas negara.

Saat berbicara kepada warga Haiti yang hadir pada konferensi tersebut, diplomat dan ekonom tersebut meminta para peserta untuk tidak menentang komitmen nasional dan keterbukaan internasional.

“Anda tidak harus memilih antara menjadi warga global atau berkomitmen terhadap Haiti. Anda bisa menjadi keduanya,” katanya.

Ia menganjurkan munculnya pemimpin yang mampu berpikir global namun tetap mengakar pada realitas lokalnya.

“Haiti membutuhkan pemimpin yang membawa kembali ide-ide terbaik dunia ke komunitasnya, dan memahami bahwa inovasi bukan milik negara mana pun, namun milik mereka yang berani berkreasi,” lanjutnya.

Menurutnya, babak selanjutnya dalam sejarah Haiti akan ditulis oleh mereka yang berani berinovasi, berkolaborasi, dan membayangkan masa depan yang berbeda.

Vanessa Charles Adrien kembali ke makna simbolis tahun 1804, yang dianggapnya sebagai tonggak penting bagi bangsa Haiti. Ia mengenang bahwa laki-laki dan perempuan yang dijadikan budak mampu menggulingkan tatanan yang sudah mapan dan menyatakan prinsip universal: kebebasan sebagai hak seluruh umat manusia.

“Jika nenek moyang kita berani menaklukkan kebebasannya melawan segala rintangan, maka generasi kita punya tanggung jawab untuk menaklukkan masa depan,” tutupnya.



Source link