
Sepak bola bisa jadi sangat tidak kenal ampun, terutama bagi pemain muda, dan Pau Cubarsi mengalami kenyataan pahit itu pada malam Eropa yang menyakitkan bagi Barcelona.
Pada momen yang benar-benar mengubah momentum permainan, bek tengah remaja ini mendapat kartu merah sebelum jeda setelah bentrok dengan Giuliano Simeone.
Keputusan tersebut membuat Barcelona hanya memiliki sepuluh pemain pada tahap penting leg pertama perempat final Liga Champions melawan Atletico Madrid.
Yang membuat situasi semakin buruk adalah dari bola mati yang dihasilkan, Julian Alvarez berhasil mencetak gol.
Setelah peluit akhir dibunyikan, bek muda ini mengambil tanggung jawab dengan cara yang mencerminkan kedewasaannya.
Ia membagikan gambar pertandingan tersebut di media sosial, disertai permintaan maaf kepada rekan satu tim dan suporter. Itu adalah sebuah sikap yang tidak luput dari perhatian di ruang ganti.
Dukungan pun mengalir
Pemain seperti Dani Olmo, Ronald Araujo, dan Marc Bernal berbicara secara terbuka, menunjukkan bahwa skuad tetap mendukung salah satu talenta muda paling cemerlang mereka.
Namun mungkin dukungan paling kuat datang dari mereka yang memahami tekanan dalam mempertahankan lencana Barcelona lebih baik dari siapa pun.
Legenda klub Carles Puyol dan Gerard Pique, dua sosok yang identik dengan keunggulan pertahanan, juga turun tangan untuk mendukung pemain muda tersebut.
Pique mengakui sulitnya situasi seperti itu, terutama bagi pemain yang masih berada di awal karirnya, dengan menyatakan,
“Tetap tegakkan kepalamu, sobat. Kamu akan menghancurkan mereka saat kembali,” dia menulis.
Perlu dicatat bahwa Pique telah lama bersuara tentang kekagumannya pada Cubarsi, dan pesan ikon Barcelona tersebut memperkuat kepercayaan tersebut.
Oleh karena itu, kekalahan Barcelona dari Atletico Madrid diwarnai oleh wasit yang kontroversial dan tim mengambil langkah besar dengan mengajukan keluhan resmi ke UEFA, yang menimbulkan beberapa insiden yang merugikan mereka.












