Barcelona mungkin mendapat banyak pujian atas penampilan mereka di lapangan di bawah asuhan Hansi Flick dan kemampuannya memenangkan gelar.
Namun, mungkin ciri yang paling mencolok dari tim Barcelona ini adalah kesatuan internal di ruang ganti dan tidak adanya kontroversi besar.
Misalnya, dalam beberapa bulan terakhir, klub diliputi oleh kebisingan pemilu, yang berakhir Minggu ini dengan terpilihnya kembali Joan Laporta. Namun skuad Hansi Flick telah muncul sebagai kekuatan yang lebih bersatu dari sebelumnya.
Meski terjadi kekacauan eksternal, ruang ganti berhasil tetap koheren dan belum menunjukkan tanda-tanda kehancuran.
Bagaimana Hansi Flick melindungi timnya
Seperti dilansir oleh Mundo DeportivoFlick telah memainkan peran sebagai orang tua dalam melindungi para pemainnya dari sirkus media sekitarnya.
Contoh utamanya adalah keputusannya untuk menerbangkan tim langsung ke Inggris setelah pertandingan San Mames untuk menghindari gangguan pada debat presiden pertama di Barcelona.
Namun, kebisingan eksternal menjadi tidak mungkin untuk diabaikan ketika video Victor Font menjadi viral, di mana sang kandidat mempertanyakan fisik Dani Olmo dan mengkritik perekrutan Joao Cancelo dan Raphinha.
Para pemain yang diincar, yang merupakan tokoh penting dalam grup, merasa dikucilkan dan disalahgunakan, sehingga membuat seluruh skuad semakin rapat.
Mentalitas “kita melawan dunia” ini semakin dipicu oleh pukulan yang ditujukan kepada Alejandro Echevarria, sosok yang dicintai oleh staf dan para pemain.
Hubungan antara skuad dan hierarki merupakan hal mendasar bagi stabilitas ini. Jika Flick adalah sosok ayah disiplin, Joan Laporta berperan sebagai kakek yang memanjakan dan melindungi keluarga pemain.
Ikatan yang mengakar ini diabadikan oleh gambaran Dani Olmo dan rekan satu timnya yang melompat dan merayakan bersama Laporta di tenda pemungutan suara.












