Home Politic Kewarganegaraan ganda: Bernice Fidélia terpaksa mengundurkan diri kemarin, menteri binasional memimpin hari...

Kewarganegaraan ganda: Bernice Fidélia terpaksa mengundurkan diri kemarin, menteri binasional memimpin hari ini Berita terbaru dari Haiti: Politik, Keamanan, Ekonomi, Budaya.

5
0


Selama beberapa dekade, sebuah hal yang konstan telah terjadi di pemerintahan-pemerintahan berturut-turut, yaitu integrasi yang berulang, terkadang diasumsikan, seringkali tersembunyi, dari individu-individu yang memiliki kewarganegaraan ganda dalam aparatur negara. Praktek ini, bukannya marginal, malah menjadi hal yang dangkal, hingga menghilangkan perdebatan mengenai penghormatan terhadap Konstitusi dan loyalitas institusional terhadap substansinya.

Episode-episode tertentu dengan jelas menggambarkan ambiguitas ini. Pada Januari 2013, Menteri Haiti yang Tinggal di Luar Negeri, Bernice Fidélia, mengundurkan diri dari pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Laurent Lamothe. Keputusan ini diambil seminggu setelah pengungkapan Senator John Joël Joseph yang menyebutkan dugaan kewarganegaraan ganda menteri tersebut.

Pada setiap transisi politik, skenario yang sama sepertinya terulang kembali: menteri, sekretaris negara, atau pegawai negeri sipil senior diangkat tanpa ada kejelasan mengenai kewarganegaraan mereka. Ketidakjelasan ini memicu kecurigaan dan melemahkan kredibilitas institusi.

Persoalannya tidak hanya bersifat hukum, namun juga bersifat politis dan moral. Bagaimana kita bisa menuntut warga negara untuk menghormati hukum ketika pemerintah tampaknya mampu menghindarinya? Bagaimana kedaulatan nasional dapat terwujud ketika para pengambil keputusan utama mempunyai hubungan hukum dan politik dengan negara lain?

Kewarganegaraan ganda itu sendiri bukanlah suatu kesalahan. Hal ini sebagian mencerminkan sejarah migrasi dan realitas sosial negara tersebut. Namun ketidaksesuaiannya dengan fungsi-fungsi publik tertentu, sebagaimana diatur oleh Konstitusi, tidak dapat diabaikan sesuai dengan kepentingan saat itu.

Pada dasarnya, situasi ini menunjukkan kurangnya ketelitian dalam pemilihan pemimpin serta instrumentalisasi teks konstitusi yang kronis. Selama persoalan kewarganegaraan tetap menjadi hal yang tabu atau menjadi variabel penyesuaian politik, hal ini akan terus meracuni kehidupan institusional.

Selama beberapa dekade, sebuah hal yang konstan telah terjadi di pemerintahan-pemerintahan berturut-turut, yaitu integrasi yang berulang, terkadang diasumsikan, seringkali tersembunyi, dari individu-individu yang memiliki kewarganegaraan ganda dalam aparatur negara. Praktek ini, bukannya marginal, malah menjadi hal yang dangkal, hingga menghilangkan perdebatan mengenai penghormatan terhadap Konstitusi dan loyalitas institusional terhadap substansinya.

Episode-episode tertentu dengan jelas menggambarkan ambiguitas ini. Pada Januari 2013, Menteri Haiti yang Tinggal di Luar Negeri, Bernice Fidélia, mengundurkan diri dari pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Laurent Lamothe. Keputusan ini diambil seminggu setelah pengungkapan Senator John Joël Joseph yang menyebutkan dugaan kewarganegaraan ganda menteri tersebut.

Pada setiap transisi politik, skenario yang sama sepertinya terulang kembali: menteri, sekretaris negara, atau pegawai negeri sipil senior diangkat tanpa ada kejelasan mengenai kewarganegaraan mereka. Ketidakjelasan ini memicu kecurigaan dan melemahkan kredibilitas institusi.

Persoalannya tidak hanya bersifat hukum, namun juga bersifat politis dan moral. Bagaimana kita bisa menuntut warga negara untuk menghormati hukum ketika pemerintah tampaknya mampu menghindarinya? Bagaimana kedaulatan nasional dapat terwujud ketika para pengambil keputusan utama mempunyai hubungan hukum dan politik dengan negara lain?

Kewarganegaraan ganda itu sendiri bukanlah suatu kesalahan. Hal ini sebagian mencerminkan sejarah migrasi dan realitas sosial negara tersebut. Namun ketidaksesuaiannya dengan fungsi-fungsi publik tertentu, sebagaimana diatur oleh Konstitusi, tidak dapat diabaikan sesuai dengan kepentingan saat itu.

Pada dasarnya, situasi ini menunjukkan kurangnya ketelitian dalam pemilihan pemimpin serta instrumentalisasi teks konstitusi yang kronis. Selama persoalan kewarganegaraan tetap menjadi hal yang tabu atau menjadi variabel penyesuaian politik, hal ini akan terus meracuni kehidupan institusional.



Source link