Menurut Rudy Sanon, mantan presiden karismatik Jean-Bertrand Aristide bukan lagi sosok yang pernah menjadi perwujudan harapan dan keadilan sosial bagi rakyat Haiti. Setelah dipandang sebagai pemimpin yang mampu memobilisasi massa dan membela kelompok paling terpinggirkan, Aristide, menurutnya, mengubah dirinya menjadi aktor politik seperti aktor lainnya, terobsesi dengan uang dan perebutan kekuasaan.
Rudy Sanon menyayangkan mantan kepala negara tersebut, yang membangun reputasinya dengan mencela ketidakadilan dan menjunjung tinggi martabat masyarakat, saat ini berpartisipasi dalam sistem yang didominasi oleh korupsi dan klientelisme.
Menurut sambutannya, yang menjadi persoalan bukan lagi mengenai reformasi struktural atau proyek sosial berskala besar, namun mengenai penempatan sekutu dalam administrasi publik untuk mengkonsolidasikan jaringan pengaruh dan mengalihkan sumber daya negara.
Namun, ia ingat, Jean-Bertrand Aristide pernah mewujudkan harapan dan suara masyarakat paling miskin di Haiti. Seorang pendeta yang menjadi presiden, ia melambangkan perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dan ekonomi yang melanda masyarakat. Bagi sebagian besar pendukungnya, ia adalah pembela masyarakat miskin, yang berjanji akan mendistribusikan kembali kekuasaan dan memerangi korupsi yang merajalela.
Ia bukan hanya seorang pemimpin politik, namun juga simbol martabat, keberanian dan mobilisasi warga, yang mampu menginspirasi kepercayaan diri dan menyemangati masyarakat yang sudah lama terpinggirkan.
Artikel serupa












