
Setelah beberapa bulan mengalami ketegangan diplomatik dan penghentian lalu lintas udara, Haiti dan Republik Dominika memulai titik balik baru dalam hubungan bilateral mereka.
Kedua negara mengumumkan pada tanggal 17 April 2026, pembukaan kembali wilayah udara mereka, dan rencana penerbangan kembali secara resmi mulai tanggal 1 Mei. Keputusan ini diambil setelah sekitar tujuh bulan terputusnya hubungan udara, dalam konteks yang ditandai dengan perselisihan yang terus-menerus, khususnya seputar krisis migrasi dan pertanyaan terkait pengelolaan perbatasan bersama.
Pengumuman tersebut disampaikan setelah pertemuan yang diadakan di kawasan industri CODEVI di Ouanaminthe, yang mempertemukan delegasi dari Kementerian Luar Negeri dan Agama Haiti dan Kementerian Hubungan Luar Dominika.
Menurut pernyataan bersama, dimulainya kembali penerbangan pada awalnya akan menyangkut hubungan antara bandara internasional Cap-Haïtien dan beberapa bandara Dominika. Pihak berwenang kedua negara berharap dapat memfasilitasi pergerakan orang dan menghidupkan kembali pertukaran ekonomi, yang sangat terkena dampak penutupan tersebut.
Selain isu transportasi udara, diskusi juga terfokus pada isu-isu sensitif dalam agenda bilateral, khususnya keamanan perbatasan, pengelolaan arus migrasi dan hubungan perdagangan. Hal-hal ini menjadi inti ketegangan yang berujung pada penangguhan penerbangan, yang menggambarkan rapuhnya hubungan antara kedua negara bertetangga tersebut.
Namun kedua pihak menggarisbawahi perlunya memperkuat kerja sama mereka agar dapat menghadapi tantangan bersama dengan lebih baik, sekaligus menegaskan kembali keinginan mereka untuk mendukung dialog dan saling menghormati.
Pertemuan tersebut berlangsung di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Haiti, Raina Forbin, dan Menteri Luar Negeri Dominika, Roberto Álvarez, yang keduanya menekankan pentingnya menjaga saluran komunikasi terbuka meskipun ada perbedaan.
Dimulainya kembali hubungan udara secara bertahap ini dapat menandai langkah pertama menuju pelonggaran hubungan antara Port-au-Prince dan Santo Domingo, setelah ketegangan selama berbulan-bulan.
Artikel serupa












