Liga Premier menghadapi situasi yang “canggung” di mana Manchester City bisa merebut gelar dan, hampir pada saat yang sama, dinyatakan bersalah atas 115 dakwaan yang dilayangkan terhadap mereka. Tim asuhan Pep Guardiola telah tampil dengan awan yang membayangi mereka selama lebih dari setahun sementara proses hukum masih terus berjalan. Mereka sekali lagi berpeluang mengamankan gelar, yang akan menjadi gelar kelima mereka dalam enam tahun jika mereka menang atas Arsenal.
City secara konsisten membantah melakukan kesalahan dan menegaskan bahwa mereka tidak bersalah, namun masih menunggu hasil pengadilan. Hal ini akan memberikan gambaran yang mengkhawatirkan bagi Liga Premier dan otoritasnya jika keputusan diambil tepat saat mereka mengangkat trofi.
Sebuah artikel di The Lawyer menyatakan bahwa keterlibatan City dalam perebutan gelar adalah “sesuatu mimpi buruk” bagi liga, mengingat situasi yang ada.
Mereka menulis: “Sepakbola Inggris sekarang menghadapi kemungkinan yang sangat nyata – dan canggung – bahwa klub tersebut akan dinobatkan sebagai juara pada saat yang sama ketika pengadilan menyatakan klub tersebut bersalah atas pelanggaran peraturan yang sangat besar selama bertahun-tahun. Bahkan ada peluang, meskipun sangat tidak mungkin mengingat waktu yang tersisa di musim ini, bahwa City memenangkan Liga tetapi menerima pengurangan poin, sehingga menyerahkan gelar kepada Arsenal.
“Persaingan City untuk meraih gelar kini menjadi mimpi buruk bagi Liga Premier. Seperti kebanyakan arbitrase, prosesnya bersifat rahasia. Kerahasiaan dan penantian selama 16 bulan telah meninggalkan rumor yang beredar dan banyak yang menggaruk-garuk kepala tentang apa yang terjadi secara tertutup.”
Guardiola sendiri secara terbuka telah membela klubnya dalam konferensi pers, meskipun dakwaan tersebut berkaitan dengan periode dari 2009 hingga 2018. Ia hanya menjabat selama dua tahun, namun sebelumnya pernah menyatakan bahwa ia akan meninggalkan klub jika jaminan tidak bersalah dari klub terbukti tidak benar.
Pengacara berpendapat bahwa proses yang berlarut-larut ini kemungkinan besar disebabkan oleh hakim yang menangani kasus lain atau putusan yang masih dipertimbangkan oleh pihak yang berkepentingan.
Penjelasan lebih lanjut atas penundaan ini mungkin berasal dari kegagalan ketiga hakim yang terlibat dalam pengambilan keputusan dengan suara bulat. Publikasi tersebut mencatat bahwa para hakim biasanya lebih memilih untuk menghindari perpecahan dan, jika terjadi perbedaan pendapat, ketiganya kemungkinan besar akan berusaha untuk mencapai konsensus, meskipun keputusan ini pasti membutuhkan waktu.
Skenario yang lebih kecil kemungkinannya adalah kedua belah pihak memasuki diskusi penyelesaian. Agar hal ini terwujud, City sendiri mungkin perlu mengakui beberapa kesalahan yang mereka lakukan, yang akan menunjukkan perubahan dramatis dalam posisi mereka.












