Perbedaan tingkat kekerasan permukaan mikrofiller resin komposit dan nanofiller resin komposit setelah direndam larutan kopi

  • Ni Nyoman Sri Satya Sai Savitri Laksmi Dewi Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi dan Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
  • Ni Kadek Fiora Rena Pertiwi Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi dan Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
  • I G A Sri Pradnyani Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi dan Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Keywords: kopi, asam klorogenat, resin komposit, mikrofiller, nanofiller, kekerasan permukaan

Abstract

Background: Acid content in coffee such as chlorogenic acid cause the coffee has a low pH and lead a decrease in the surface hardness of the composite resin. The acid content in coffee that is absorbed by the composite resin will break the bond between matrix and filler, so that the matrix becomes detached and decompose resulting resin in lower strengh and resin become plastic. The aim of this research was to know how the difference in surface hardness level of microfilled resin composite and nanofilled resin composite after soaking in coffee.

Methods: Laboratory experimental research was conducted on 32 composite specimen which were devide into 2 groups, group I was a microfilled resin composite and group II was a nanofilled resin composite. Each group consist of the control group and the intervention group. The control group was soaked with salin for 9 hours, and the intervention group soaked with coffeee dissolved in 100ml waters for 9 hours and then place in an incubator at 37° Celsius. Before and after the intervention, surface hardness of the sample was measures using a Micro Vickers Hardness Tester. The data were analyzed by Shapiro Wilk to know the normality of sample and followed by Mann Whitney test.

Result: Mann Whitney test result showed that p value > 0,05,  indicated that there was no significant difference of reduction in surface hardness between microfilled and nanofilled resin composite after soaked in coffee.

Conclusion: The conclusion of this study is there are the difference in the surface hardness level between microfilled resin composite and nanofilled resin composite after soaking in coffee

 

Latar Belakang: Kandungan asam didalam kopi seperti asam klorogenat menyebabkan kopi memiliki pH rendah dan menyebabkan penurunan kekerasan permukaan resin komposit. Kandungan asam pada larutan kopi yang diserap oleh resin komposit akan merusak ikatan antara matrix dan filler, sehingga matrix menjadi terlepas dan terurai yang menyebabkan menurunnya kekuatan resin dan resin menjadi plastis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui baagaimana perbedaan tingkat kekerasan permukaan mikrofiller resin komposit dan nanofiller resin komposit setelah perendaman pada larutan kopi.

Metode: Telah dilakukan penelitian eksperimental laboratorik pada 32 buah sampel resin komposit yang dibagi menjadi 2 kelompok dimana kelompok I merupakan sampel mikrofiller resin komposit dan kelompok II merupakan sampel nanofiller resin komposit. Masing-masing kelompok terdiri dari kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kelompok kontrol direndam menggunakan salin selama 9 jam, dan Kelompok Perlakuan direndam menggunakan kopi yang dilarutkan dalam 100ml air selama 9 jam lalu diletakkan didalam incubator dengan suhu 37° celcius. Sebelum dan sesudah intervensi, kekerasan permukaan sampel diukur menggunakan Micro Vickers Hardness Tester. Data yang diperoleh dianalisis, dimana uji normalitas dengan menggunakan Shapiro wilk  dan dilanjutkan dengan Mann Whitney.

Hasil: Dari hasil uji Mann Whitney menunjukkan nilai p = 0,529>0,05 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan penurunan kekerasan yang signifikan antara mikrofiller dan nanofiller setelah direndam pada larutan kopi.

Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat penurunan kekerasan permukaan mikrofiller resin komposit dan nanofiller resin komposit setelah direndam pada larutan kopi.

Author Biographies

Ni Nyoman Sri Satya Sai Savitri Laksmi Dewi, Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi dan Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi dan Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Ni Kadek Fiora Rena Pertiwi, Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi dan Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi dan Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

I G A Sri Pradnyani, Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi dan Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi dan Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Published
2020-10-20
Section
Original Article